Sabtu, 19 Juni 2021

Hal yang akan terjadi, terjadilah

 Hal yang akan terjadi, terjadilah

saya ambil dari buku karya jonas jonasson yang 100 tahun kakek tua keluar jendela dan lenyap, saya lupa judul persisnya karena panjang hehe coba google aja sendiri.

Kalimat tersebut sungguh jadi pemicu semangat saat ragu atau juga saat keadaan tidak sejalan kemauan, bisa juga penyemangat dikala takdir tidak memihak diri ini. Kalimat yang terjadi maka terjadilah begitu enak jika disuarakan dengan nada apapun mau senang mau sedih sungguh suatu kalimat yang ajaib.

Di dalam buku karya Pak Jonas tersebut, sang kakek (pemeran utama) selalu menggaungkan kalimat itu di waktu kejadian yang akan berlangsung padanya, seakan pasrah namun juga menerima dengan berani dan ikhlas. Pantas saja si pemeran utama umurnya hingga 100 tahun, lha wong motto nya saja yang terjadi maka terjadilah. Mungkin jika kematian datang padanya, kematian pun enggan mengambilnya karena dia begitu santai dalam menyikapi apapun.

Dari situlah sifat yang layak untuk teman-teman contoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kalian mengalami penolakan atau juga mau mencoba hal baru seperti : Berbisnis, mengembangkan kemampuan, Belajar atau apapun itu. Kalimat yang terjadi maka terjadilah adalah solusi bagi kita semua agar tidak mudah menyerah dan tidak sedikit sedikit protes akan keadilan hidup di dunia.

segitu saja, sebenarnya saya juga ga tau mau nulis apa. Ini hanya iseng-iseng saja biar pikiran ga mengantuk dan bisa sadar hingga pergantian shift.

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa!

Jumat, 18 Juni 2021

Kabar Buruk Tak Selalu Buruk, Kabar Baik Belum Tentu Baik

 Saya tidak sedang ingin menulis dan tidak memikirkan sesuatu sih, tapi entah kenapa di jam 3 pagi ini menulis membuat saya terjaga dari ngantuk yang melanda saya. Saya tidak punya bahasan menarik kali ini, mari kita coba hal random seperti postingan saya biasanya.

Menyikapi kabar baik dan buruk.

Baru-baru ini di sekitar saya banyak hal-hal buruk yang melanda baik teman maupun lawan. Seolah-olah seperti musibah tiada akhir, dari security hingga manager sekalipun terkena imbasnya. Hal yang ingin saya sorot adalah cara menyikapi sebuah kabar entah itu baik atau juga buruk. Selalu ada kedua sisi tersebut, tapi sebuah kabar bisa juga mengandung kedua hal tersebut.

misal: sebuah kabar buruk ada kabar baiknya atau juga kabar baik pasti ada kabar buruknya. Kabar buruk yang ada kabarnya seperti seorang yang terkena penyakit dan tidak ada dana / uang untuk berobat itu adalah kabar buruk, kabar baiknya dia belum meninggal dan masih bisa berjuang mencari pertolongan, syukur-syukur ada yang menolong akan menjadikan kabar baik untuknya. Terkesan aneh sih contoh tersebut tapi selalu ada dua sisi itu. 

Baik kembali ke topik, Jadi ketika kalian mendapatkan kabar buruk dan itu bersinggungan langsung dengan kalian, belajarlah menampilkan sudut pandang lain untuk mencari kabar baik yang terkandung di situ. Tidak selamanya kabar buruk itu menjadi buruk jika kalian menemukan kebaikan di situ, seperti bos yang berjuang untuk anak buahnya tapi anak buahnya tidak tahu perjuangan bos tersebut sehingga anak buahnya menjelekkan-jelekan bosnya karena dirasa tidak ada itikad dari sang bos untuk membantu anak buahnya padahal sang bos juga harus berhadapan dengan hal-hal yang di luar kemampuan anak buahnya hanya untuk sekedar memperjuangkan hak-hak yang lebih besar (keseluruhan anak buah, bukan hanya 1 atau 2 orang)


bingung ya? memang tulisan saya makin ke sini makin acak adut.

intinya sih jangan selalu berpikir negatif akan kabar yang buruk, karena kita tidak tahu dari keseluruhan cerita datangnya kabar buruk tersebut. Meskipun bukan kita yang menyebabkan kabar buruk itu terjadi, kita harus belajar cara menyikapi hal-hal tersebut 

Jika kabar baik jangan langsung bergembira, cari lagi informasi siapa yang dirugikan karena hal tersebut, itu yang akan membuat kita semua jadi lebih bijaksana dalam menjalani hidup.

selamat weekend, have a good day! salam udud

Kamis, 17 Juni 2021

AssMara

 Setelah kemarin saya merengek dan melantur soal kesuksesan kini saya terpikirkan soal asmara. Oke, saya minta maaf atas tulisan saya yang semakin kacau balau dan ga jelas tema-nya. Mungkin memang memang saya diciptakan dengan otak random sehingga blog ini pun menjadi random dan absurd. Oke segitiga bermuda, segitu saja.


Asmara.

Adalah perasaan senang pada lawan jenis (kelamin). Asmara ini juga jadi hal-hal penting maupun remeh dalam terciptanya suatu budaya atau peradaban. Dari asmara terbentuklah macam-macam hal seperti pakaian yang cantik, perhiasan untuk kado, hingga patokan bentuk tubuh ideal. Tapi bukan itu yang ingin saya sorot, yang ingin saya sorot adalah saya sudah pasrah akan datangnya asmara. Karena makin bertambah tahun asmara ini jadi berubah bentuk, mungkin juga dipengaruhi oleh kehidupan orang-orang yang semakin tahun semakin mapan dan penuh dengan rasa damai. Coba kita tarik ke belakang di era peperangan, sebagian orang mungkin (di negara maju) masih bisa untuk pilih-pilih dalam hal asmara terutama kalangan bangsawan. Kalangan bangsawan sendiri memang harus mencari yang sebanding agar kebangsawanannya terus dilanjutkan, beda dengan orang kalangan bawah yang bertahan hidup saja sudah sulit. Nah di jaman sekarang semua orang (hampir semua orang) mempunyai sifat seperti bangsawan tersebut, ini hanya saya saja atau kalian juga merasakan? mungkin saya saja yang sotoy. 

Dari itulah keresahan saya soal asmara ini muncul dan bertumbuh, saya melihat sudah berbeda dengan jaman kakek atau ayah ibu saya dulu yang menikah hanya dengan rasa suka dan menikah. Di jaman sekarang harus ada syarat-syarat dan tetek bengek nya hanya untuk sekedar menjalin hubungan, ini belum untuk yang serius menikah. Ketika menikah juga masih banyak hal yang harus dirundingkan seperti jika si pasangan tiba-tiba terkena penyakit mental, atau perihal tempat tinggal yang dirasa kurang luas, atau malah berbeda visi ketika sudah menikah. Sungguh kompleks sekali urusan asmara di jaman sekarang. Dari hal terkecil hingga terbesar semua sudah ada standard atau pakemnya. Kalian akan diberi pilihan untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan itu dikarenakan luasnya informasi dan pembandingan hidup dengan teman-teman kalian. Kalian melihat teman kalian hidup dangan nyaman, akhirnya kalian membandingkan dengan kehidupan kalian dan merasa menderita akan pilihan tersebut. Oke stop sampai di sini, saya juga ga tau ini nulis apa, sepertinya kejauhan.

Di umur saya sekarang saya melihat asmara sudah tidak se-lugu dulu. Kalian akan menghabiskan waktu, uang, energi kalian pada asmara yang tidak bertahan lama. Baru-baru ini saya alami, berkenalan lewat dating apps sudah bertemu dan kenal bahkan beberapa kali jalan keluar tapi itu masih kurang ternyata, kalian perlu kaya untuk bisa membuat cewek bertahan dan waktu kalian untuk terus menjalin komunikasi dengannya. Itu yang tidak saya miliki dan alhasil kenalan saya tidur dengan cowok pilihannya, tragis? nggak juga rugi iya, rugi waktu dan materi. Tapi ya sudahlah memang hati siapa yang tahu dan hidup juga seperti itu hanya akan adil pada orang-orang tertentu saja. Mari kita teruskan, yang jadi concern adalah Asmara sendiri ini perlu adanya ketiga hal tadi, komitmen hanya akan didapatkan ketika ketiganya tadi sudah memenuhi di pasangan kalian. Jika tidak sama dengan kasus saya cewek kalian akan pergi dengan cowok yang masuk pada Kriteria dia, itu tidak apa-apa untuk saya sebab perempuan juga membutuhkan kepastian dan kemapanan.

Balik ke inti dari tulisan, saya sudah pasrah dengan asmara saya. Mau datang atau nggak juga gapapa karena ya saya dilahirkan dengan kondisi seperti ini wajar saja wanita yang saya sukai tidak akan pernah saya dapatkan. Mungkin juga karena wanita yang saya sukai berada di tingkatkan atas saya jadi untuk sekedar mencoba hidup seperti saya mereka tidak mau atau bahkan takut. Mereka juga lebih memilih untuk hidup yang enak dan aman-aman saja. Gila saja jika mereka mau menurunkan standard hidup hanya demi asmara (di masa sekarang) kalo saya jadi dia, saya bakal cari yang enak dan aman !.

Memilih untuk naik motor apa mobil? ya jelas mobil lah, ga panas, ga capek, ga kehujanan, ga kena debu.

Well, meskipun tulisan saya kali ini makin hancur, saya akui ini jam 4 pagi dan saya belum tidur karena shift malam di sebuah offtake di Semarang.


Sehat-sehat kalian yang otaknya masih waras untuk mengejar atau membuat sebuah asmara, kalo saya sih sudah menyerah. Hidup cuma fana yang kekal ya adalah rasa depresi!

bye 


 

Rabu, 16 Juni 2021

Kesuksesan di Dunia Part 2

Banyak dari orang-orang berlomba-lomba untuk mengejar kesuksesan, wajar jika kita juga turut serta dalam lomba tersebut. Dalam lomba memang ada yang kalah ada juga yang menang. Jadi jika kalian ingin menang maka kalian perlu mengingat jika perlombaan menjadi sukses itu memerlukan persiapan dan juga modal. Lantas apakah kalian sudah mempersiapkan modal atau persiapan kalian? Okelah jika sudah maupun belum. Di tulisan kali ini saya akan mencoba membagikan pandangan kesuksesan yang hanya akan didapat oleh orang-orang yang kaya raya dan beberapa mungkin juga bisa diraih oleh orang yang biasa-biasa saja. Biarlah takdir yang memutuskan bukannya saya hehehe. (Dibawah ini kita mulai)

Pernahkan kalian berpikir? apakah akan sukses di masa depan? atau malah berpikir kenapa saya tidak sukses-sukses setelah berjuang begitu keras? inilah pendapat saya.

Kesuksesan seseorang ditentukan dari se-kaya apa orang tuanya. Jika orang tuanya kaya persentase untuk jadi sukses sudah pasti besar melebihi 70% ,sisanya hanya kemauan dan strateginya saja yang perlu untuk dipelajari. Berbeda nasib jika orang tuanya biasa saja, persentase untuk jadi sukses hanya 2-3 %. Ibarat seperti kalian bermain gatcha atau bermain game-game jepang yang harus membayar untuk mendapatkan karakter tertentu atau item-item yang bagus. Jika kalian tidak punya uang yaaa tidak bisa dapat barang bagus, pun jika kalian punya hasilnya juga belum tentu item yang kalian incar. Memang begitulah setting dari kehidupan ini yang diterapkan di game-game jaman modern, dari situ kita bisa belajar menyikapi hidup.

Bicara soal kekayaan dan kesuksesan, pernahkan kalian berpikir bagaimana orang miskin yang tergolong milenial. Saya dapat pandangan ini dari video YouTube milik Jakarta Post yang berjudul Poor Milenial, video itu benar-benar membuat saya mempunyai sudut pandang lain soal Milenial yang dianggap generasi emas, kekinian, modern, yang disanjung oleh sejuta umat pokoknya, tapi ternyata milenial juga punya sisi lain. Kalian harus nonton video itu karena disitu memberikan pandangan lain soal hidup jadi warga ibukota dengan penghasilan yang minim untuk anak muda era sekarang.

Kesuksesan juga tidak melulu mendatangi orang kaya dan anak turunnya. Dibeberapa kasus, orang miskin juga bisa jadi sukses tapi dengan ketentuan dan syarat yang berlaku seperti : 

1. Si miskin harus bekerja keras dan cerdas juga harus hemat

2. mempunyai sifat yang visioner

3. memanfaatkan uang yang didapat untuk investasi

4. mengorbankan apapun yang dimiliki

5. faktor luck yang tinggi sedari kecil

6. mempunyai mental orang kaya

7. Saya ga tau apakah itu semua berhasil tpai nomer 6 adalah TAKDIR hahahahaha. Karena meskipun sudah melakukan itu semua jika memang nasibnya jadi miskin ya dipasrahkan ke takdir. entahlah mungkin saya yang lagi teler sewaktu nulis ini

yang jelas...

Jika disambungkan dengan paragraf-paragraf sebelumnya, kita bisa tahu bahwa memang kekayaan adalah jalan menuju kesuksesan yang menggunakan mode easy, jika ingin mode hard ya jadi anak orang miskin yang tinggal di pedalaman, tidak sekolah, dan tidak dapat akses Internet serta privilege-privilege lain harus dihilangkan untuk mencoba kesuksesan dengan hard mode.

Kebosanan Hidup (Tulisan pertama di Umur 27)

 Tentang kebosanan menjalani hidup..

dunia yang menjadi tua atau saya yang tidak muda lagi?  memang pertanyaan itu tidak ada korelasinya karena yang jelas adalah jawabannya saya yang masih muda sudah merasa tua karena keadaan saya sekarang ini benar-benar stuck dan tidak tau mau dibawa kemana. Di pikiran inginnya melakukan hal yang disukai namun kenyataannya harus melakukan hal yang tidak disukai agar bisa menyambung hidup (uang, karena hidup butuh uang). Entah ini didorong oleh rasa apa, yang jelas hodup saya di umur ke 27 rasanya begitu membosankan. Faktor lingkungan mungkin berpengaruh atau bisa juga faktor-faktor lain seperti kecanggihan jaman yang memicu orang seumuran saya berlomba-lomba untuk mencapai sesuatu yang disebut oleh kebanyakan orang kesuksesan.

Sukses di sini mungkin lebih ke arah kaya raya hidup bahagia mati masuk surga (jika memang surga benar adanya). Orang-orang di seumuran saya bahkan sudah ada yang jadi manager di suatu perusahaan, ada yang jadi politisi, jadi aparatur negara, bahkan pengusaha yang berhasil. Dari itu semua, dunia di timeline saya terkesan begitu sangat cepat karena perlombaan yang saya sendiri juga tidak tahu yang memulai ini siapa?. Lomba tanpa aturan dan tanpa syarat yang membuat orang-orang berbondong-bondong untuk mengejar kesuksesan tsb. Mungkin saya saja yang merasa ini atau juga saya saja yang tidak menyukai hal ini dan bisa juga karena saya sudah kalah dalam perlombaan ini makanya saya berpikiran seperti ini.

Ya apapun yang saya rasakan mungkin juga berpengaruh pada pemikiran saya saat ini. Mungkin akan berbeda lagi jika saya diposisi sang pemenang (orang yang mencapai kesuksesan), saya akan dengan jumawa akan memberikan wejangan-wejangan atau juga motivasi pada orang-orang yang memulai untuk sukses dan ikut serta dalam perlombaan kesuksesan ini, selayaknya seperti kaum-kaum muda yang tidak berbakat tapi memiliki koneksi dan materi yang berlimpah untuk membuat seminar atau workshop kehidupan dari sudut pandang mereka.


Ya begitulah hidup, saat ini saya juga sudah pasrah mau kemana lagi hidup saya mengalir. Dulu saya tidak setuju dengan hidup itu seperti aliran sungai yang mengalir entah kemana tapi berujung di laut (kematian). Tapi kini hal tersebut terjadi pada saya, saya yang mengalir tanpa arah mau kemana saja ya 'Monggo', mau mengalir ke timbunan sampah yang dibuang masyarakat ya ayuk, mau mengalir ke kolam renang yang dikencingi anak-anak kecil ya ayoo, mau mengalir ke septic tank ya boleh boleh saja, bahkan menggenangpun juga ga masalah. Sebab hidup juga kita tidak akan tahu mau kemana meskipun sudah berjuang untuk membuat alurnya bahkan ada yang membuat garis besarnya, tp itu semua sia-sia belaka.

Ada yang bilang usaha yang mati-matian akan membuat hasil yang memuaskan, mungkin itu benar terjadi pada orang-orang yang faktor keberuntungan dari lahir sudah mencapai 90% tapi untuk saya tidak deh terima kasih. Memang dasarnya saya pemalas dan akhir-akhir ini saya tahu peran saya di dunia hanya jadi penonton para manusia yang jadi tokoh utama. Banyak dari era / jaman saya sekarang yang sudah sukses di dunia sejak muda itu yang menurut saya jadi tokoh utama, karena merekalah yang akan mengambil keputusan-keputusan penting di jaman saya kelak sudah tua. Mungkin mereka akan jadi menteri atau bahkan presiden, kalo saya yaaa paling mentok jadi Pak RT (mungkin) itu juga karena dipaksa orang-orang karena tidak mau repot-repot mengurusi urusan remeh antar tetangga hahaha ya kalo tidak jadi Pak RT ya paling jadi bapak-bapak yang nongkrong di warung sambil berdebat soal politik dan lingkungan.

Sudah deh males juga mikir dan nulis kepanjangan, jika ga ada inti atau benang merah dari tulisan ini, silahkan komen untuk memperbaiki tulisan saya.

Dan diskusi soal tulisan ini juga gapapa,tapu kalo ga ada yang komen ya cari saja maksud dan inti dari tulisan ini.

Sekian, Bye!